Sabtu, 04 Februari 2017

Cerita Semar dan Togog dalam Wayang Purwa





Semar dikenal sebagai ayah dari punakawan, dimana dikenal sebagai penasihat sejak leluhur Pandawa hingga generasi-generasi berikutnya. Lantas apa peran dari para punakawan yang biasanya muncul di adegan goro-goro dan membuat penonton terpingkal-pingkal? Apakah mereka sekedar pelawak? Siapa juga si Togog?


Kehadiran Semar, Togog, dan para punakawan di dunia pewayangan sesuatu yang menarik. Oleh karena mereka hanya muncul di kisah pewayangan ala Indonesia, sedangkan di versi India sendiri kisah mereka tidak ada. Yang sebagai penasihat di kisah India hanya Krisna dan Begawan Abiyasa, peran Semar dan lain-lainnya tidak terungkap. Nah, sebenarnya siapakah Semar, Togog, Gareng dan kawan-kawannya?

Ini sebuah kisah yang saya sarikan dari buku komik berjudul Wayang Purwa karya Ardi Soma terbitan Elex Media Komputindo. Saya yakin ada banyak versi di luar sana tentang asal asal usul Semar dkk. Versi wayang Jawa dan versi Sunda mungkin juga berbeda. 

Oke saya mulai ceritanya. Alkisah Menurut kisah wayang purwa, manusia pertama adalah Nabi Adam yang berputera Nabi Sis. Nabi Sis ini kemudian memiliki putera bernama Sanghyang Nurcahya yang kemudian berputera Sanghyang Nurrasa. Sanghyang Nurrasa kemudian berputera Wenang dan bercucu Sanghyang Tunggal. 

Semar dan Togog awalnya adalah putera dari Sanghyang Tunggal dari Dewi Wiranti. Ada tiga puteranya yang lahir dimana berbentuk telur. Setelah bersemedi maka telur itu berubah menjadi bayi yang tampan. Bayi dari kulit telur bernama Antaga atau Puguh. Bayi berikutnya dari putih telur adalah Ismaya dan yang terakhir dari kuning telur bernama Manikmaya. Dewa tersebut tinggal di Jonggringsalaka di Swargaloka di atas Gunung Mahameru. 

Suatu ketika Sanghyang Tunggal hendak mewariskan tahta di antara ketiga puteranya. Antaga dan Ismaya pun berselisih merasa salah satu dari mereka yang berhak. Mereka berkelahi dan sama kuatnya, hingga suatu saat saling menantang untuk menelan gunung. Yang terjadi fatal. Mulut Antaga menjadi lebar dan perut Ismaya menjadi besar. penampilan mereka menjadi buruk rupa dan tak bisa diperbaiki. 


Tampuk kekuasaan berikutnya jatuh ke Manikmaya yang mendapat gelar Sanghyang Jagatnata atau Surapati. Manikmaya juga memiliki nama lain Guru (bersemayam di Tengguru) dan Samba juga Sanghyang Otipati (berkuasa menghukum). Ia juga menerima pusaka para dewa seperti kalaminta, tranggayeni, dan aji kemayan. 

Antaga sendiri berperan sebagai penasihat dan pengritik jika  Manikmaya berbuat salah. Setelah Manikmaya memiliki penerus ia bertugas mengawasi dan menghalangi orang-orang yang berniat jahat kepada setiap keturunan dewa. Ia mendapat julukan Togog. 

Sedangkan Ismaya yang berperut besar mendapat julukan Semar. Ia bertugas sebagai penasihat raja juga mengasuh keturunannya kelak.

Setelah Manikmaya berkuasa, ada banyak serangan baik dari para jin maupun dari kerajaan manusia yang kuat. Mereka ingin menguasai Suralaya, namun berkali-kali berhasil dihalau dan beberapa di antaranya menjadi abdi Manikmaya. Di antara penyerang itu ada yang berubah menjadi Gareng dan Dawala. Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Keduanya gemar bersenda gurau. 


Itulah sebagian kisah dalam Wayang Purwa versi komik, bisa jadi kisahnya bakal berbeda di tempat lain karena ada yang menyebutkan anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Ada juga yang menyebutkan nama seperti Petruk dan Bagong. Ada yang menyebut Bagong itu sama dengan Cepot. Ya ya ya ada banyak versi.

Saya sendiri menyukai kisah ini karena pengetahuan saya tentang wayang lebih banyak dari kisah aslinya dibandingkan versi wayang purwa sehingga adanya buku ini menambah khazanah pewayangan serta relatif mudah dipahami.

Komik yang menarik dan bergizi.

Detail Buku :
Judul                   : Wayang Purwa
Karya                 : Ardi Soma
Penerbit              : Elex Media Komputindo
Genre                 : Wayang
Rating                 : 8/10

4 komentar:

  1. Karena saya bukan asli dari Jawa ga begitu paham tentang wayang.Terimakasih Sharing nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung mba Ria:)
      Memang wayang purwa berbeda dengan versi India dan kaya akan versi, versi Jawa Tengah+Jatim juga sedikit berbeda dengan versi Sunda.saya sendiri juga masih belajar untuk lebih banyak tahu tentang wayang purwa.

      Hapus
    2. ya itulah versi yang aslinya dari Sunda ...heheh

      Hapus