Rabu, 25 Juli 2018

Tiga Buku Ini Bumbui Kehidupanku


Ngomongin buku aku sebenarnya lebih kutu buku daripada mania film dan lagu. Aku suka banget membaca buku. Dulu bahkan rasanya susah dan 'kekeringan' jika tak membaca buku baru dalam satu minggu. Tentang buku yang inspiratif aku teringat masa lalu membaca buku-buku ini dan masih ingat akan isinya.

Aku mulai membaca ketika aku belum bisa membaca. Ayahku juga doyan membaca jadinya buku-buku di rumah cukup banyak.

Buku-buku itu di antaranya Tintin, serial wayang karya RA Kosasih, dan buku dongeng Hans Christian Andersen. Ketika aku sedikit besar maka aku membaca buku-buku Enid Blyton, majalah Bobo, buku petualangan Old Shatterhand, dan serial Little House in The Prairie.

Buku-buku ini memberikan inspirasi bagiku. Berikut pengaruh buku-buku ini dalam
hidupku. Terutama tiga buku berikut.


Serial Tintin yang Membuatku Sempat Jadi Wartawan
Ketika belum bisa membaca aku suka membolak-balik halaman Tintin. Aku tertawa melihat tingkah polah Thomson dan Thompson. Aku juga menyukai kesetiakawanan Snowy, si anjing putih lucu, terhadap Tintin, tuannya.

Cerita petualangan Tintin membuatku berkhayal ingin suatu saat berkeliling dunia dan juga menjadi wartawan. Aku juga ingin punya hewan peliharaan yang setia.

Impian itu sebagian terlaksana. Aku sempat menjadi wartawan di sebuah surat kabar nasional. Aku juga pernah berkeliling ke berbagai pulau dan negara secara sendirian. Menyenangkan dan sedikit menegangkan. Oh ya aku juga punya hewan peliharaan seperti Nero dan Mungil yang setia.

Kisah Mahabarata yang Tragis
Ayah dulu punya koleksi Mahabarata lengkap. Ia punya kisah Leluhur Hastina lanjut ke kisah Pandawa. Sayang cerita berakhir saat persiapan perang Baratayuda. Koleksinya yang merupakan karya RA Kosasih lenyap entah kemana.

Aku dulu membaca semuanya. Ayah juga punya Shakuntala, Gatotkaca Gugur dan cerita-cerita wayang lainnya. Kisah pewayangan tersebut punya banyak kisah moral.

Gara-gara terbiasa dengan pewayangan, aku jadi terbiasa dengan wayang kulit dan wayang wong. Bahkan aku menyukai pesan moral dalam pewayangan.

Dongeng HC Andersen
Dongeng-dongeng HC Andersen tidak semuanya bahagia. Aku senang membaca kisah Itik Buruk Rupa tapi sedih membaca Gadis Penjual Korek Api. Aku terpukau dengan kisah Putri Bajang.

Baru ketika dewasa aku tahu cerita HC Andersen banyak yang getir dan tragis. Kehidupan rupanya tak selalu indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar