Minggu, 16 Juli 2017

Serba-Serbi Jakarta dari Kacamata Ekspatriat


Jakarta itu kota yang unik. Ia dibenci sekaligus dirindukan. Eh yang kangen dengan serba-serbi Jakarta bukan hanya warganya, tapi juga kaum ekspart. Kesan-kesan Patrick, ekspart asal Australia akan Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia dikemas apik dalam buku kumpulan kolom berjudul "Stormy With a Chance of Fried Rice".

Awalnya saya memilih buku ini karena saya suka covernya dimana menggambarkan kesemrawutan Jakarta dengan salah satu fokus pada penjual nasi goreng. Wah sepertinya banyak kisah kulinernya nih seperti kumpulan kolom Pak Ageng eh Umar Kayam. Ternyata bukan, kisahnya seperti nasi goreng, campur aduk, kaya rasa dan berwarna. Kalian bisa tambahkan bahan favorit dalam nasi goreng, seperti udang, ayam, sayuran, atau telur. Kematangannya dan tingkat pencampurannya juga bisa Kalian sesuaikan. Wah apakah hidup di Jakarta ibarat nasi goreng ya?

Pat memiliki banyak kisah selama ia menetap selama 12 bulan dalam rentang waktu 2013-2015. Ia seorang pekerja LSM multinasional tentang humanisme, dimana ia sering disibukkan dengan penelitian dan konferensi. Di sela-sela kesibukannya, ia suka mengamati, melakukan hal-hal yang menarik perhatiannya, dan mengajak mengobrol orang-orang yang ditemuinya.

Ada puluhan kisah dalam buku ini, dimana ada yang hanya berupa puisi singkat, tapi ada juga yang memuat opininya tentang beragam isu berat, termasuk masalah transportasi dan politik masa itu. Ia sendiri pernah ditugaskan ke Timor Leste dan ke Aceh, dimana kemudian ia menemukan hal-hal menarik dan tidak seperti yang ia ekspektasikan sebelumnya.

Pat seorang yang suka berpetualang dan bereksperimen. Di Jakarta dan kota lainnya di Indonesia ia mencobai beragam hal seperti meminum jamu, makan di kaki lima, mencobai creambath yang ia bayangkan seperti mandi penuh busa ala Cleopatra, dan mencoba naik bajai. Untuk yang terakhir ini saya jadi ingat ketika masih aktif sebagai volunteer di Couchsurfing. Seorang anggota CS dari Swedia membujukku untuk menemaninya naik bajai. Ia sungguh penasaran, baginya pengalaman naik bajai itu otentik dan unik.

Di antara puluhan kisahnya, ada beberapa yang menarik. Kisahnya tentang creambath itu cukup kocak, dimana ia salah berasumsi. Ia mengiranya salah satu menu mandi di dalam bak yang penuh busa dan kemudian dipenuhi kelopak mawar. Ah eksotis bayangannya. Tapi angan-angannya sirna ketika ia malah digiring untuk mencuci rambut, lalu rambutnya diberi krim tebal dan dipijat. Selanjutnya rambutnya dibungkus dengan handuk seperti mengenakan turban. Ia merasa konyol tapi kemudian setiba di hoteknya ia merasakan tidur lelap dan bangun dengan tubuh segar.

Kisah lainnya yang menarik dan sesuai judulnya adalah pengalamannya dengan nasi goreng, "Meals on Wheels". Ia jatuh cinta dengan nasi goreng. Jika ada kesempatan ia akan memanjakan lidahnya dengan nasi goreng kaki lima. Baginya nasi goreng itu menarik karena jika perlakuan nasi berbeda maka hasilnya juga akan berbeda. Ia menyukai nasi goreng dengan telur. Saat bersantap di restoran pun ia juga suka memesan nasi goreng.

Kisah yang membuat terharu adalah "Kissing in Public". Ini bukan kisah romantis dua insan, melainkan aksi menunjukkan kecintaan pada sang merah putih dan bangsa Indonesia. Acara menghormati bendera ini biasanya diadakan pada peringatan hari Pahlawan di Gedung Juang 45. Ada veteran juga anak-anak. Di sinilah keharuan akan singgah mengenang jasa pahlawan. Pada masa pertempuran 10 November 1945, korbannya di pihak Indonesia mencapai 16 ribu. Sungguh besar pengorbanan mereka demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di kumpulan kolom ini ia tidak hanya memuji, menyampaikan keheranannya, tapi juga mengritisi. Ia merasa lelah ketika mengurus perpanjangan visa, ia menyesal tak meminta bantuan agen. Ia juga sumpek dengan kemacetan. Tapi ia menyampaikan keluhan dan kritikannya dengan bahasa ringan.

Oh ya buku ini menggunakan bahasa Inggris. Menurutku level bahasa Inggris dalam buku ini tingkat medium hingga ekspert sehingga beberapa di antaranya perlu dibaca agak perlahan-lahan. Bagus sih untuk melatih kemampuan bahasa Inggris dan memperkaya kosakata. Diksinya cenderung lugas,bukan bahasa ala sastra. Menurutku sih buku ini asyik dibaca untuk mengetahui bagaimana pandangan Jakarta dari kacamata ekspatriat.

Detail Buku:
Judul : Stormy With a Chance of Fried Rice
Penulis : Pat Walsh
Desainer Cover : Ign Ade
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2015
Genre : Kumpulan kolom




2 komentar:

  1. wah, buku yang menarik. jadi penasaran pingin baca juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya bagus dan bisa menambah perbendaharaan kosakata bahasa Inggris. Salam Farida:)

      Hapus