Selasa, 01 Januari 2019

Kisah Keluarga Cemara yang Sabar dan Bahagia


Keluarga Cemara dilayarlebarkan. Tanggal 3 Januari mendatang filmnya akan diputar di bioskop di seluruh daerah. Versi layar gelasnya dulu juga begitu populer. Keluarga Cemara ini diangkat dari novel karya Arswendo Atmowiloto. Seperti apa sih Keluarga Cemara dalam bukunya?

Keluarga Cemara mengisahkan kehidupan sehari-hari Ara bersama Abah, Ema, dan kakaknya, Euis, dan adiknya, Agil. Mereka keluarga sederhana yang awalnya sebenarnya hidup mapan. Abah harus menjual rumah di Jakarta dan benda berharga lainnya kemudian menetap di Tasikmalaya ketika orang yang dipercaya ternyata melakukan tindakan ilegal sehingga ia harus bertanggung jawab.

Ema yang setia menemaninya. Euis yang sempat merasakan hidup serba berkecukupan paham akan perasaan dan derita ibunya. Ia menjadi salah satu tulang punggung, membantu orang tuanya berjualan opak buatan ibunya sebelum dan setelah pulang kerja.

Ara masih duduk di TK sedangkan Agil belum sekolah. Mereka tinggal di rumah bambu sederhana. Si Abah bekerja sebagai penarik becak dan melakukan pekerjaan serabutan.

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal yang mereka hadapi. Ara paham keadaan keluarganya meskipun masih belia. Ia tabah menerima olok-olokan dari beberapa temannya tentang pekerjaan ayah dan kondisi keluarganya. Ia diam saja meskipun sebenarnya sedih ketika temannya tak meminjamkan mainan atau mengundangnya ke acara ulang tahun. 

Euis juga menahan rasa malunya dengan berjualan di terminal dan di jalanan. Ia yang paling bisa menyimpan uang. Namun uang tabungannya yang sedikit itu selalu digunakan untuk macam-macam. Untuk berobat dan sebagainya, jarang bisa digunakan untuk dirinya sendiri. 

Sedangkan Agil adalah anak bungsu yang gemar bernyanyi. Ia juga ingin keinginannya dituruti. Kadang-kadang ia berkelakuan ganjil membuat orang tua dan kedua kakaknya kebingungan.

Meskipun miskin mereka berupaya untuk selalu jujur dan berbuat baik. Si Abah berupaya untuk melakukan apapun demi mempertahankan idealisme meskipun kadang-kadang Ema dan Euis ingin menyanggahnya. 

Ada banyak kisah sedih dalam buku ini yang ceritanya pendek-pendek. Tapi ada juga yang membuat tersenyum.  Buku ini kaya pesan moral dan bisa dibaca segala usia. 

Menurutku buku ini mungkin terinspirasi dari kisah Little House on The Prairie. Sama-sama berlatar keluarga nasrani yang miskin, jujur, dan baik hati. Keluarga Laura tepatnya nenek buyutnya dulu juga bangsawan di Skotlandia yang kemudian mencoba peruntungan di Amerika. Kehidupan memburuk pada saat nenek Laura, Charlote, kehilangan suaminya, dan kemudian menjadi single parent dengan enam anak-anaknya. 

Ema seperti Caroline, ibu Laura, yang tabah dan mau berkelana ke sana ke sini dengan kereta kuda mereka bersama suami dan keempat anaknya. Abah seperti Pa yang bersedia bekerja apa saja asal halal. Euis seperti Mary yang menjadi anak penurut dan teladan. Sedangkan Ara seperti Laura yang tangkas dan ceria. Sementara Agil seperti Carrie yang di awal kisah Laura masih kecil. Meski ada sedikit kemiripan, jalan ceritanya benar-benar beda dan kisah Ara membumi seperti yang kita temui sehari-hari. 

Hiks buku ini bikin aku terharu dan diam-diam air mata membayang. 

Detail:
Judul: Keluarga Cemara
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Genre : Novel keluarga
Skor : 8/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar