Catatan 1984 (3)
Jakarta diguyur hujan lebat. Bahkan sejak siang, hujan turun begitu deras. Sambil menyesapi aroma hujan dan menyeruput kopi panas, aku membuka lembar demi lembar 1984.
Kali ini aku membaca dengan lambat. Sambil membaca, benakku mencoba memvisualisasikan apa yang sebenarnya terjadi pada Winston. Mengapa ia bermimpi buruk tentang orang tuanya yang meninggal pada pembersihan pertama. Juga, apa sebenarnya yang kini menjadi ketakutannya.
Winston seperti merasa bersalah karena ingatannya mulai samar. Ia tak lagi yakin pada kenangan tentang keluarganya. Apakah saat itu adiknya sudah lahir atau belum, ia pun ragu.
Ia yakin ada banyak hal, termasuk sejarah, yang sengaja dipudarkan lalu dibelokkan oleh penguasa. Winston percaya Airstrip One dulunya bernama London. Ia ingat negerinya pernah damai sebelum terlibat perang yang terasa tak berkesudahan.
Namun yang paling membuatnya marah adalah upaya partai menghapus sejarah dengan membelokkan fakta. Padahal Winston yakin Oceania pernah bersekutu dengan Eurasia.
Winston takut pada satu hal, “jika semua orang menceritakan dongeng yang sama, maka dusta itu akan lolos, masuk ke dalam sejarah, dan menjadi kebenaran.”
Kini, setiap hari ia harus bersenam mengikuti panduan teleskrin. Hidupnya begitu ketat dan sepenuhnya dikontrol. Semua dijatah. Bahkan untuk membeli piyama saja, Winston harus berpikir panjang. Uang jatah pakaian yang kecil membuatnya bertahan dengan singlet dekil dan celana pendek.
Namun, apakah masa kini lebih baik?
Dulu ada masa ketika privasi, cinta kasih, dan persahabatan masih dihargai. Kini, yang tersisa hanyalah ketakutan, kebencian, dan rasa sakit, tanpa dukacita, tanpa luapan emosi. Hampa.
Bab tiga ini cukup mengusikku. Bukankah sekarang privasi juga kian mahal dan sulit didapatkan?
Aku membaca hingga halaman 45. Hanya 11 halaman hari ini. Kucukupkan saja, agar cerita dan pesan dalam bab ini bisa kuendapkan di benak.
Selamat sore, kawan.

Komentar
Posting Komentar