Catatan "1984" (7)

 

Langit masih gelap. Aku terbangun dan kemudian  belum bisa kembali memejamkan mata. Kuputuskan untuk melanjutkan membaca novel "1984" hingga halaman 100.

Kemarin aku juga membaca buku ini. Hanya aku tak membuat konten IG-nya. Kemarin aku merasa sesak karena ingat kucingku yang belum kembali. Aku sangat merindukannya. 

Pada bab enam, Winston menuliskan dalam catatannya tentang para perempuan. Ia teringat akan mantan istrinya yang dinikahinya hanya sekitar dua tahunan. Istrinya sangat setia pada partai, hingga membuatnya terasa sesak. 

Dalam dunia Winston, hubungan yang mesra antara suami istri malah dianggap sebagai sesuatu yang vulgar. Bahkan muncul dukungan untuk hubungan selibat dan inseminasi buatan. Mereka yang ketahuan melakukan hubungan bebas, berselingkuh, atau menyewa jasa penghibur bisa dikenakan hukuman pidana. 

Dalam bab tujuh disebutkan bahwa ada golongan yang bebas dari teleskrin, polisi pikiran, dan juga aturan tentang hubungan antara pria dan wanita. Mereka disebut kaum prol. Mereka dianggap golongan yang liar, kasar, tapi bisa dimanfaatkan jika diperlukan. Mereka juga mudah dihilangkan, tinggal ditandai dan kemudian mereka pun raib. 

Ketika memikirkan mereka, Winston jadi teringat akan sejarah negara mereka sebelum revolusi besar terjadi. Benarkah dulu kehidupan mereka lebih buruk?! 

Yang sekarang terjadi entah apakah bisa disebut baik atau buruk. Namun, ia merasa jengah melakukan revisi berita masa lampau. Mengapa pemalsuan sejarah besar-besaran itu dilakukan? 

Keuntungan yang bisa didapatkan dari memalsukan sejarah memang jelas. Namun, motif akhirnya masih misterius. 

Dalam akhir bab tujuh, Winston menulis dalam catatannya: "Kebebasan ialah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Jika itu dijamin, semua yang lain mengikuti."

Catatan: aku tidak bisa menggambar. Jadinya gambar di instagram ini tidak ada kaitan dengan isi caption-nya hehe. Aku hanya menggambar bebas sesuai tantangan #30hbc26gambar

Komentar

Postingan Populer