Catatan "1984" (5)
Tetes-tetes hujan semakin halus dan rapat. Suaranya terdengar samar, demikian juga wujudnya. Tetes-tetes air ini menunjukkan hari ini kemungkinan langit masih akan mendung dalam beberapa jam ke depan. Aku pun melanjutkan membaca "1984". Kini masuk bab lima.
Setiap kali membaca novel karya Orwell ini ada perasaan tak nyaman menyusup. Ooh aku jadi membandingkan situasi masa kini dengan yang ada di buku.
Hal mirip adalah makan siang yang buruk. Setiap hari Winston menyantap makanan yang kurang layak. Namun, ia harus terus merasa bersyukur karena makanan dijatah. Meski tak enak, ia sering merasa lapar karena jatah makanan yang tak banyak.
Hari itu ia berjumpa dengan kawan dan tetangganya. Ia merasa aneh dengan rasa antusias mereka kepada hukuman gantung. Suatu kekerasan yang entah bagaimana bisa dinikmati oleh mereka, bahkan oleh anak-anak.
Pembicaraan beralih ke pisau cukur yang menghilang di toko-toko. Sebelumnya kancing baju, tali sepatu, dan masih banyak lagi juga susah dijumpai. Hanya ada di pasar ilegal.
Lalu muncullah kabar di mana kawannya bersama tim kerjanya melakukan penyusutan kosakata untuk kamus bahasa baru. Bagi mereka perubahan bahasa dan penyusutan kata akan dapat menghapus jejak sejarah masa lampau dan mengurangi kesadaran.
Satu lagi yang membuatku resah adalah manipulasi data statistik untuk membuat masyarakat merasa kehidupan mereka baik-baik saja. Winston di sini merasa sangsi dengan semua data tersebut. Namun, ia pura-pura percaya karena di Airstrip One ekspresi wajah bisa jadi kejahatan. Mereka yang menunjukkan wajah tak percaya atau menggumam saat ada pengumuman, maka bisa ditangkap. Paling buruk mereka bisa diuap.
Akhirnya aku menuntaskan bab lima dan berakhir pada halaman 77 dengan bergumam. Ooh apakah aku bisa bertahan bila berada di realita Winston.
#georgeorwell
#mabarsobatnulis2606
@sobatnulis.ig

Komentar
Posting Komentar