Catatan "1984" [2]

 

Kemarin dan hari ini aku membaca hingga bab dua bagian pertama novel 1984 karya George Orwell. Selama membaca, perasaanku campur aduk. Mengapa buku yang ditulis hampir 80 tahun  silam tersebut bisa memprediksi kondisi yang terjadi saat ini?  

Nggak persis banget sih, tapi banyak hal yang sama, membuatku cemas. Apakah memang sejarah itu bisa berulang karena ada pola tertentu dari kebiasaan manusia? Entahlah. 

Berikut hal-hal yang menyita perhatianku:
Winston, si tokoh utama merasa terus dimata-matai oleh teleskrin. Gumaman saja bisa diperiksa. Ia juga cemas menulis buku harian karena hal tersebut bisa masuk kegiatan ilegal. 

Makanan dan ada banyak hal yang dijatah dalam sehari-hari. Setiap hari juga ada kegiatan "dua menit benci" di mana akan diputar sosok yang dianggap penjahat nomor satu di masyarakat. 
Kemudian, entah kenapa para karyawan termasuk Winston dengan penuh semangat ikut mencaci-maki dan berteriak. Orang-orang merasa perlu mengalihkan kebencian dan kemarahannya ke sesuatu. Dan, anehnya itu melegakan. Waktu dua menit dengan mencaci maki itu seperti waktu yang ditunggu untuk melupakan segala emosi terutama kemarahan. 

Bagian tersebut membuatku teringat akan banyaknya kemarahan di media sosial seperti di X. Banyak yang mengamuk dan membenci berlebihan orang-orang yang diceritakan di X, padahal mereka tidak kenal, juga baru klaim sepihak dan belum tentu benar. 

Sementara di bab kedua, ada sesuatu yang mengganjal tentang anak-anak yang sejak kecil terpapar kebencian. Di buku ini, anak tetangga Winston senang melihat orang yang digantung dan sepertinya siap menjadi mata-mata kecil yang brutal, bisa melaporkan orang tuanya ke polisi pikiran. Ehm bukankah ini juga sempat terjadi di negeri ini ya. 

Buku ini masih tebal. Aku baru membaca 34 dari 390 halaman. Moga-moga selesai selama kegiatan Mabar ini.

Komentar

Postingan Populer